Hari ini adalah hari guru. Hari dimana kita memberi penghormatan kepada guru atas jasa-jasanya mendidik anak bangsa. Guru? Ya, guru. Profesi yang banyak jasanya sampai-sampai diberi gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.” Sungguh sebuah ironi, karena yang namanya pahlawan biasanya diberi tanda jasa. Namun tidak bagi para guru. Mereka mengabdi demi mencerdaskan bangsa dan membuat pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik.
Ketika saya bertanya pada rekan-rekan sejawat, “Kalian besok mau jadi apa?” Ada yang menjawab dokter, insinyur, akuntan, pekerja seni, dsb. Namun hampir tidak ada yag mau jadi guru. Kenapa? Karena seolah-olah profesi guru di Indonesia merupakan profesi yang tidak menjanjikan dan terkadang dianggap mentok. Padahal, jika kita mau menengok ke belakang, semua profesi yang ada pasti tercapai dengan adanya guru. Tidak mungkin kita bisa menjadi dokter jika tidak pernah diajari IPA, menjadi akuntan jika tidak diajari akuntansi, dsb. Semua berkat jasa-jasa para “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.” Ini. Namun bila sudah sukses, manusia cenderung lupa darimana mereka berasal. Mereka bagai kacang lupa kulitnya. Menganggap kesuksesan mereka dikarenakan diri mereka sendiri. Padahal tanpa guru, mereka bukan apa-apa. Untuk lebih lanjut, mari kita cermati puisi Hartoyo Andangjaya, “DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA” dibawah ini
Apakah yang kupunya, anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdian kepadamu
Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku
aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidup di rumah tangga
Ah, tentang ini aku tak pernah bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
- horison yang selalu biru bagiku -
karena kutahu, anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
untuk mengenal ini semua
Puisi ini dibilang masih relevan dengan jaman sekarang. Masih banyak guru yang kehidupannya seperti dalam puisi tersebut. Hal ini dikarenakan orang-orang tidak begitu peduli tentang nasib guru. Nasib guru juga disinggung Bung Iwan Fals dalam lagunya “Oemar Bakri.” Yang berkata “//jadi guru jujur berbakti memang makan hati/ tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri//” Dapatlah kita lihat bagaimana Hartoyo Andangjaya dan Iwan Fals bercerita bagaimana nasib guru di Indonesia.
Karena itu, dalam Hari Guru tahun ini, marilah kita ubah pandangan kita tentang para guru. Karena merekalah kita dapat seperti sekarang. Karena merekalah kita dapat tahu bermacam hal. Sungguh, pengabdian mereka hanya untuk kita. Mereka rela menempuh jarak jauh meninggalkan keluarga demi mengajar kita. Hormatilah mereka karena pengabdian mereka begitu besar pada kita
Bagi para guru, berbahagialah. Karena anda-anda semua adalah “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.” Anda-andalah yang “membuat” murid-murid anda menjadi dokter, insinyur, dan lainnya. Sungguh kalian adalah “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.” Kalian tidak pernah meminta apapun dari murid-murid kalian. Pengabdian kalian sungguh tulus luar biasa! Terima kasih Bapak dan Ibu Guru! Selamat Hari Guru!
Ketika saya bertanya pada rekan-rekan sejawat, “Kalian besok mau jadi apa?” Ada yang menjawab dokter, insinyur, akuntan, pekerja seni, dsb. Namun hampir tidak ada yag mau jadi guru. Kenapa? Karena seolah-olah profesi guru di Indonesia merupakan profesi yang tidak menjanjikan dan terkadang dianggap mentok. Padahal, jika kita mau menengok ke belakang, semua profesi yang ada pasti tercapai dengan adanya guru. Tidak mungkin kita bisa menjadi dokter jika tidak pernah diajari IPA, menjadi akuntan jika tidak diajari akuntansi, dsb. Semua berkat jasa-jasa para “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.” Ini. Namun bila sudah sukses, manusia cenderung lupa darimana mereka berasal. Mereka bagai kacang lupa kulitnya. Menganggap kesuksesan mereka dikarenakan diri mereka sendiri. Padahal tanpa guru, mereka bukan apa-apa. Untuk lebih lanjut, mari kita cermati puisi Hartoyo Andangjaya, “DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA” dibawah ini
Apakah yang kupunya, anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdian kepadamu
Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku
aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidup di rumah tangga
Ah, tentang ini aku tak pernah bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
- horison yang selalu biru bagiku -
karena kutahu, anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
untuk mengenal ini semua
Puisi ini dibilang masih relevan dengan jaman sekarang. Masih banyak guru yang kehidupannya seperti dalam puisi tersebut. Hal ini dikarenakan orang-orang tidak begitu peduli tentang nasib guru. Nasib guru juga disinggung Bung Iwan Fals dalam lagunya “Oemar Bakri.” Yang berkata “//jadi guru jujur berbakti memang makan hati/ tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri//” Dapatlah kita lihat bagaimana Hartoyo Andangjaya dan Iwan Fals bercerita bagaimana nasib guru di Indonesia.
Karena itu, dalam Hari Guru tahun ini, marilah kita ubah pandangan kita tentang para guru. Karena merekalah kita dapat seperti sekarang. Karena merekalah kita dapat tahu bermacam hal. Sungguh, pengabdian mereka hanya untuk kita. Mereka rela menempuh jarak jauh meninggalkan keluarga demi mengajar kita. Hormatilah mereka karena pengabdian mereka begitu besar pada kita
Bagi para guru, berbahagialah. Karena anda-anda semua adalah “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.” Anda-andalah yang “membuat” murid-murid anda menjadi dokter, insinyur, dan lainnya. Sungguh kalian adalah “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.” Kalian tidak pernah meminta apapun dari murid-murid kalian. Pengabdian kalian sungguh tulus luar biasa! Terima kasih Bapak dan Ibu Guru! Selamat Hari Guru!
Comments
Post a Comment