Skip to main content

Belajar Dari Sebuah Paku

Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan (Mazmur 37:8)

Ada seorang direktur perusahaan yang pemarah. Setiap hari kerjaannya memarahi karyawan perusahaannya yang berbuat salah walau sekecil apapun. Hal ini membuat si direktur tidak begitu disukai oleh karyawannya. Sebenarnya direktur sadar akan sifat pemarahnya yang kadang berlebihan, namun ia tidak tahu bagaimana menghentikannya. Kemudian, ia memutuskan untuk berkonsultasi dengan seorang pendeta.


Saat direktur itu selesai menceritakan masalahnya, pak pendeta berkata, “Apakah di kantor anda ada pohon yang cukup besar?” “Ada. Di kantor kami memiliki pohon mangga yang cukup besar, tapi untuk apa pak pendeta? Jawab direktur. Kemudian pak pendeta itu memberikan sekantong paku pada direktur itu dan berkata,”Setiap kamu marah pada karyawanmu, tancapkanlah satu paku di pohon itu. Seminggu kemudian, kembalilah padaku.” Direktur menyanggupi permintaan itu.
Keesokan harinya, direktur melakukan apa yang diminta pak pendeta. Setiap ia marah, ia tancapkan satu paku di pohon mangga di kantor, begitu seterusnya. Setelah 3 hari, ia sudah menancapkan 20 paku. Lama-lama ia sadar dan kaget bahwa dalam 3 hari saja, ia sudah 20 kali marah. Kemudian direktur itu berefleksi dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan berusaha mengendalikan emosinya.
Direktur itu ternyata berhasil. Seminggu berlalu dan ia hanya menambah 6 paku. Sehingga total ada 26 paku di pohon mangga. Karyawannya pun mulai menyukai sikap baru sang direktur. Sang direktur menjadi disegani karyawannya. Kemudian ia kembali ke rumah pak pendeta dan menceritakan keberhasilannya mengendalikan emosi. Pendeta itu memujinya dan berkata, “Bagus sekali, anda telah berhasil menjadi orang yang sabar. Sekarang setiap anda berhasil mengendalikan emosi. Cabutlah satu paku dari pohon mangga itu. Seminggu lagi, saya akan ke kantor anda untuk melihat hasilnya.” Direktur menyetujui syarat itu.
Direktur kemudian melakukan yang diminta pak pendeta. Setiap ia sabar, ia cabut satu paku dari pohon mangga, begitu seterusnya. Seminggu kemudian, semua paku sudah hilang dari pohon mangga itu. Lalu pak pendeta datang untuk melihat hasilnya. Ia disambut hangat oleh pak direktur. Kemudian pak pendeta berkata,” Pak direktur, lihatlah batang pohon mangga ini. Batang ini sudah tidak mulus lagi karena ada bekas paku yang ditancapkan padanya. Walau paku itu sudah dicabut, bekas itu akan tetap ada dan membutuhkan waktu yang lama untuk hilang. Hal ini sama dengan hati manusia. Setiap pak direktur marah pada seseorang, pak direktur telah menancapkan paku di hati orang itu. Dan walaupun pak direktur sudah berkali-kali minta maaf -yang berarti mencabut paku itu-, bekasnya akan tetap ada di hati orang itu. Tidak seperti luka luar yang cepat sembuh, luka hati butuh waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun untuk sembuh. Karena itu, janganlah selalu menancapkan paku ke hati orang” Pak direktur itu termangu dan menyatujui kata-kata pak pendeta itu.
Saudara-saudara sekalian, setiap kemarahan akan membuat kita menjadi lebih kecil, sementara memaafkan akan mendorong kita untuk berkembang jauh melebihi ukuranmu. Marah sering membutakan mata batin dan mata rohani. Marah tidak dapat meihat hadirnya Tuhan dalam tengah-tengah pergaulan, persaudaraan, dan persahabatan. Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Marah pun juga dapat menyakiti hati orang lain yang memerlukan waktu yang lama untuk sembuh. Karena itu, kita harus menjaga emosi kita.

Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh (Pengkotbah 7:9)

DOA:
Ya Tuhan, ajarlah kami agar mampu mengendalikan emosi dengan baik. Sadarkanlah kami bahwa kemarahan kami dapat menyakiti hati orang lain. Bentuklah kami agar kami dapat menjadi orang yang sabar dan pengertian. Amin


Diambil dari buku “Yesus Menjawab E-mail-E-mailku” oleh J.Felicianus yang diterbitkan oleh Pustaka Marwa. Dari renungan berjudul: “Paku Yang Menyelamatkan” dengan perubahan dan tambahan oleh penulis

Comments

Popular posts from this blog

Akhir Perjalanan Sang "Belut"

Kamis, 17 September 2009 | 17:21 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Pelarian buronan paling dicari di Indonesia, Noordin M Top akhirnya terhenti pada Kamis (17/9) pagi. Dalang sejumlah aksi terorisme itu tewas diberondong timah panas tim Densus 88 dalam penyergapan sebuah rumah di Kampung Kepoh Sari RT 03/RW 11, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah. Akhir perburuan Noordin berawal dari penangkapan dua orang anggota Kelompok Urwah dan Aji. Pukul 11.30, petugas menangkap Rohmad Puji Prabowo alias Bejo di Pasar Gading, Solo. Rohmad pun diinterograsi, dan dari sini, petugas menangkap Supono alias Kedu pukul 15.00. "Interograsi berjalan di lapangan dan Alhamdulillah, dua orang ini memberi petunjuk, di Kampung Kahuripan ada beberapa orang pelaku teror yang ada di sana. Rumah itu adalah rumahnya Susilo alias Adib," ujar Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Bambang Hendarso Danuri dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Kamis. Kemudian, lanjut dia, pukul 23...

Tips Menjadi Pembicara yang Baik

Diambil dari :http://myundermind.wordpress.com/2008/10/20/tips-menjadi-pembicara-yang-baik/ Ditulis oleh saifull4h di/pada Oktober 20, 2008 Berbicara di depan orang banyak adalah hal yang luar biasa bagi sebagian Orang. butuh keberanian yang besar untuk dilihat orang banyak dan memaparkan Ide-ide, Opini sendiri atau sekedar mengucapan sambutan. Namun, untuk menjadi pembicara yang baik tidak hanya dibutuhkan keberanian saja namun harus ada faktor-faktor pendukung lainnya untuk bisa dikatakan pembicara yang baik dan sukses. FAKTOR YANG MENUNJANG 1. Seorang pembica yang sukses mampu memikat Audience. Untuk mengikat audience/pendengar, caranya tidak selalu sama tergantung dari situasi dan kondisi. Contohnya, apabila pembicara berbicara dengan Orang Awam harus menggunakan tutur kAta yang lebih mudah dimengerti dibandingkan berbicara dengan audience yang Intelek. Begitupun dengan Kondisi, harus disesuaikan dengan intonasi yang Pembicara Gunakan. Apabila pembaca sedang berbicara dalam acara k...