Bagaimana perasaan kita saat menemui Tuhan? Kebanyakan dari kita akan menganggap tenang damai,dsb. Tapi bagaimana dengan penyair individualistis seperti Chairil Anwar dalam menggambarkan hubungannya dengan Tuhan? Silakan baca puisinya yang berjudul "Di Masjid" yang baru saya temukan ini.....
DI MASJID
Kuseru saja Dia
sehingga datang juga
Kamipun bermuka-muka
seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada
Segala daya memadamkannya
Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda
Ini ruang
gelanggang kami berperang
Binasa membinasa
satu menista lain gila
Charilil Anwar menganggap pertemuannya dengan Tuhan merupakan "perang" dan ia menggambarkan suasana yang heroik sekali dalam puisinya. Biasanya suasana heroik itu dipakai untuk suasana berperang dengan musuh. Namun untuk Chairil Anwar, berperang dengan Tuhan. Sebuah pandangan yang cukup unik. Apakah ada diantara anda yang berpandangan seperti Chairil Anwar?
DI MASJID
Kuseru saja Dia
sehingga datang juga
Kamipun bermuka-muka
seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada
Segala daya memadamkannya
Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda
Ini ruang
gelanggang kami berperang
Binasa membinasa
satu menista lain gila
Charilil Anwar menganggap pertemuannya dengan Tuhan merupakan "perang" dan ia menggambarkan suasana yang heroik sekali dalam puisinya. Biasanya suasana heroik itu dipakai untuk suasana berperang dengan musuh. Namun untuk Chairil Anwar, berperang dengan Tuhan. Sebuah pandangan yang cukup unik. Apakah ada diantara anda yang berpandangan seperti Chairil Anwar?
Comments
Post a Comment