Skip to main content

Belajar Dari Tukang Bakso

Berikut ini adalah hasil wawancara saya dengan tukang bakso yang sering lewat di depan rumah saya. Lihatlah apa yang diharapkannya pada negara ini dan (terutama)pada pemilu.

Bapak Sudah berkeluarga?
Sudah mas, istri, 2 anak, dan 2 cucu.

Maaf pak, kalo boleh tahu umur bapak dan kelurga berapa?
Umur saya + 58 tahun. Istri 56 tahun. Anak saya 28 tahun dan 26 tahun. Cucu saya yang satu 11 tahun dan 7 tahun.

Sejak kapan bapak mulai berjualan bakso?
Wah lumayan lama mas. Saya mulai berjualan bakso pada tahun 1971. Waktu itu harga bakso masih 5 rupiah. Lalu pada tahun 1986 saya sempat mejadi tukang becak hingga tahun 1999. Kemudian saya menjadi tukang bakso lagi sampai sekarang.
Selama lebih dari 10 tahun berjualan, apakah tentunya bapak sering menemui banyak kendala. Kalau boleh tahu, biasanya kendalanya apa?
Biasanya kalau sedang musim sepi mas. Dagangan saya kurang laku jadinya.

Bapak kan sempat “banting stir” jadi tukang becak. Mengapa bapak kembali berjualan bakso?
Ya lebih enak aja mas. Jadi tukang becak kerjanya lebih capek, terus hasilnya bila dibandingin sama hasil jualan bakso hampir sama. Jadinya ya saya balik jualan bakso mas. Alasan lainnya ya karena saya tambah tua, dah gak kuat narik becak. Ha ha ha ha
Menurut bapak kondisi Indonesia sekarang bagaimana?
Ya sudah makmur mas. Kalau dibandingkan jaman saya kondisinya kurang memungkinkan. Apa-apa susah. Untuk makan sehari-hari aja sulit. Jadi ya kesimpulannya bisa dikatakan jaman sekarang lebih enak lah.

Bagaimana pendapat bapak saat BBM naik?
Wah itu berdampak sekali bagi pedagang-pedagang kecil seperti saya. Harga-harga jadi naik mas. Sembako seolah-olah tidak terbeli.

Pendapat bapak tentang pemerintahan Indonesia sendiri bagaimana?
Kalau menurut saya, sebenarnya Presidennya sudah baik. Tapi “cabang-cabang” nya buruk.
Sebentar lagi kita akan mengadakan Pemilihan Presiden. Pemimpin yang didambakan rakyat kecil seperti bapak yang bagaimana?
Yang bisa merata, tidak mementingkan diri sendiri, bernegara, dan bermasyarakat. Serta tidak hanya obral janji. Kami sudah bosan diberi janji. Kami ingin bukti. Soalnya kami kan gak bisa makan janji, makannya nasi. Ha ha ha ha ha.

Kalau soal perekonomian bagaimana menurut bapak?
Ya, perekonomian sekarang ini cenderung yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Contohnya, para anggota DPR yang makin hari makin kaya. Sementara kami (rakyat kecil) semakin miskin dan tidak berubah nasibnya. Malah semakin tidak jelas saja. Padahal para anggota DPR itu kan bisa dibilang makan uang rakyat juga. Jadi seharusnya mereka berpihak pada rakyat kecil.

Harapan bapak untuk bangsa Indonesia sendiri?
Ya supaya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang aman dan tentram. Dan tidak ada lagi yang bikin rusuh atau cari perkara. Terus juga para teroris itu pada di hukum mati aja. Kan mereka dah bunuh banyak orang. Lalu pemerintahannya juga yang mempedulikan rakyat kecil. Jangan mengurusi politik thok. Lha kami kapan?

Maaf pak, kalau boleh tahu apa harapan bapak pada usaha bapak ini?
Yah, gimana ya mas. Kalo saya sih maunya menetap. Biar bisa jualan sambil momong cucu. Tapi ya mau gimana lagi mas. Pendapatan cuma pas-pasan, cuma cukup buat makan. Jadi ya saya hanya bisa berharap dengan usaha ini saya masih bisa bikin dapur ngebul.

Apakah ada yang bapak inginkan tetapi belum tercapai?
Gimana ya mas. Kita ini kan cuma dagang kecil. Sebenernya kami gak minta banyak. Kami cuma ingin harga-harga menjadi stabil. Gak naik turun kayak gini. Kalo naik turun terus kan kami susah mas. Wong kebanyakan juga penghasilan kami gak tetap. Kadang-kadang buat makan sehari-hari aja susah. Kalo harga stabil kan enak mas. Terus juga saya berharap supaya jaman gak terlalu susah. Jadi, ya kami yang jualan ya jualan yang mau beli ya beli. Jadi gak dipersulit gitu lho. Saya memang dah biasa hidup sulit. Tapi ya jangan ditambah sulit lagi.

Pendapat bapak tentang kegiatan wawancara ini sendiri apa?
Saya setuju dengan kegiatan seperti ini. Soalnya, dengan kegiatan yang kayak gini ini, anak-anak jadi tahu susahnya cari uang. Soalnya kakehan anak-anak selalu minta uang pada orangtua dengan gampangnya. Dan juga, supaya pandangan mereka terbuka. Bahwa diantara mereka masih ada orang-orang kecil seperti kami ini. Tapi ya liat-liat sikon mas. Soalnya banyak diantara pedagang kecil kayak kami ini kadang gak mau ditanya-tanya soal kehidupan pribadinya. Biasanya karena malu. Tapi gak sedikit juga yang mau.. Mungkin mereka merasa ada yang memperhatikan. Maklum lah mas, para rakyat kecil seperti kami ini kadang cuma dipandang sebelah mata. Jadi senang ada yang memperhatikan.

Comments

Popular posts from this blog

Akhir Perjalanan Sang "Belut"

Kamis, 17 September 2009 | 17:21 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Pelarian buronan paling dicari di Indonesia, Noordin M Top akhirnya terhenti pada Kamis (17/9) pagi. Dalang sejumlah aksi terorisme itu tewas diberondong timah panas tim Densus 88 dalam penyergapan sebuah rumah di Kampung Kepoh Sari RT 03/RW 11, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah. Akhir perburuan Noordin berawal dari penangkapan dua orang anggota Kelompok Urwah dan Aji. Pukul 11.30, petugas menangkap Rohmad Puji Prabowo alias Bejo di Pasar Gading, Solo. Rohmad pun diinterograsi, dan dari sini, petugas menangkap Supono alias Kedu pukul 15.00. "Interograsi berjalan di lapangan dan Alhamdulillah, dua orang ini memberi petunjuk, di Kampung Kahuripan ada beberapa orang pelaku teror yang ada di sana. Rumah itu adalah rumahnya Susilo alias Adib," ujar Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Bambang Hendarso Danuri dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Kamis. Kemudian, lanjut dia, pukul 23...

Tips Menjadi Pembicara yang Baik

Diambil dari :http://myundermind.wordpress.com/2008/10/20/tips-menjadi-pembicara-yang-baik/ Ditulis oleh saifull4h di/pada Oktober 20, 2008 Berbicara di depan orang banyak adalah hal yang luar biasa bagi sebagian Orang. butuh keberanian yang besar untuk dilihat orang banyak dan memaparkan Ide-ide, Opini sendiri atau sekedar mengucapan sambutan. Namun, untuk menjadi pembicara yang baik tidak hanya dibutuhkan keberanian saja namun harus ada faktor-faktor pendukung lainnya untuk bisa dikatakan pembicara yang baik dan sukses. FAKTOR YANG MENUNJANG 1. Seorang pembica yang sukses mampu memikat Audience. Untuk mengikat audience/pendengar, caranya tidak selalu sama tergantung dari situasi dan kondisi. Contohnya, apabila pembicara berbicara dengan Orang Awam harus menggunakan tutur kAta yang lebih mudah dimengerti dibandingkan berbicara dengan audience yang Intelek. Begitupun dengan Kondisi, harus disesuaikan dengan intonasi yang Pembicara Gunakan. Apabila pembaca sedang berbicara dalam acara k...